Penyebaran Islam di Gorontalo
Penyebaran Islam di Gorontalo
Gorontalo merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur, selain Ternate, Gowa dan Bone. Penyebaran Islam ke Gorontalo kemungkinan ada sejak abad ke 14 ditandai dengan adanya salah satu tokoh penyebaran agama Islam di Gorontalo yakni Sutan Amai, kemudian diteruskan oleh raja – raja Gorontalo pada abad ke-15. Menurut Ibrahim Polontalo bahwa proses awal masuknya Islam ke Gorontalo hanya melalui satu jalur saja yaitu perkawinan antara raja (olongia) Gorontalo, Amai13 dengan puteri raja Ogomanjolo, Palasa, Tomini yang bernama Owutango pada tahun 152514. Kala itu, Sultan Amai (1503 - 1585) yang menjadi Raja Gorontalo pergi ke Palasa di Sulawesi Tengah. Di situ, ia jatuh cinta kepada putri kerajaan Gomonjolo, Putri Owutango. Putri Owutango memberi syarat kepada Amai, apabila mau menikahinya, anak keturunan Sultan Amai dan seluruh rakyat Gorontalo harus memeluk Islam.Amai pun menjalankan permintaan ini dan berusaha memasuki setiap sisi kehidupan masyarakat. Institusi pendidikan, keluarga, seni dan budaya dimanfaatkannya untuk mensosialisasikanIslam.
Sejak awal masehi kawasan Asia Tenggara telah berfungsi sebagai jalur lintas perdagangan bagi kawasan sekitarnya, Asia Timur dan Asia Selatan.Dari kawasan Asia Selatan, hubungan pelayaran antarbenua terus berlanjut ke Barat sebelum akhirnya mencapai Eropa.Melalui jalur perdagangan ini, kawasan Asia tenggara pada abad-abad berikutnya, terutama pada abad ke-5 M menjadi lebih ramai dengan hadirnya para pedagang dan pelaut yang melintasi wilayah tersebut. Maka tak heran apabila waktu itu beberapa bandar di Asia Tenggara seperti Lamuri di Aceh dan Perlak di Aceh Timur, Kedah di Malaysia, Martavan dan Pegu di Myanmar, Ayuthia di Thailand dan Pandurangga di Vietnam, berubah fungsi menjadi bandar regional. Dampak dari komunikasi internasional ini adalah masuknya pengaruh tradisi besar ke kawasan Asia Tenggara, seperti Hindu-Budha (abad 1-5 M), Islam (abad ke-7-13 M), dan Eropa (abad 17 M) sejalan dengan kolonialisme di Indonesia dan Asia Tenggara umumnya.
Meski Sultan Amai belum menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan, namun usahanya sudah melebihi daripada itu yaitu memasyarakatkan Islam lewat delapan orang muballigh yang datang dari kerajaan Ogomanjolo, serta mengislamkan masyarakat dengan jalan mendirikan mesjid pertama dari Gorontalo yang dikena dengan nama mesjid Hunto kemudian berganti nama menjadi mesjid Sultan Amai, serta merancang 188 macam adat yang bernafaskan Islam. Raja Amai menjadi lebih dikenal sebagai Sultan Amai (Jabatan dalam Bahasa Islam)15.Perilaku sosial masyarakat yang semula diatur dan diarahkan menurut adat yang bersumber dari alam sejak saat itu mulai berakulturasi dengan nilai-nilai Islam. Prinsip sara’ bersendikan adat memperlancar proses tersebut.
Provinsi Gorontalo merupakan daerah yang memiliki kebudayaan yang beraneka ragam serta suku yang majemuk. Sehingga agama yang berkembang di Provinsi ini menjadi beragam pula, diantaranya Islam, Protestan, Katholik, Hindu dan Budha. Agama yang banyak di anut penduduk gorontalo adalah agama Islam. Orang Gorontalo hampir dapat dikatakan semuanya beragama Islam (96.36 %) yang sesuai falsafah daerah ini, “adat bersendikan sara’, sara’ bersendikan kitabullah”. Gorontalo pun di kenal dengan sebutan “Kota Serambi Madinah” dengan infrastruktur serta bentuk – bentuk bangunannya yang bernuansa islami. Sebelum kedatangan agama Islam, penduduk Gorontalo memeluk agama local, seperti Alifuru, semacam kepercayaan animisme dan dinamisme.
kerajaan Ternate, sebagai kerajaan Islam yang timbul di bagian timur Indonesia sejak tahun 1430 M. Perlu dicatat bahwa Islam dari Ternate menuju pantai Timur Sulawesi pada awalnya memasuki kawasan Tomini ke daerah Palasa yang sudah dikenal sejak abad ke 15 pada saat itu sebelum bernama Tinombo17. Menurut Mopangga, Islam dimasukkan dan disebarkan oleh muballigh Ternate pada abad ke XIV. Muballigh tersebut sewaktu kembali dari Aceh mempelajari aqidah Islam, yang kesasar dalam perjalan pulang ke Ternate, terbawa arus ombak laut ke teluk Tomini, Palasa dan bukannya ke Gorontalo
Konteks demikian mengkonfirmasi bahwa masuknya Islam ke Gorontalo punya kaitan erat dengan keberadaan Teluk Tomini Barat, yakni daerah Palasa yang sudah terkenal pada saat itu, terutama masa abad ke 15 dan 16. Menurut Kuno Kaluku (h.34) yang juga berpandangan bahwa pada tahun 1430, raja Gorontalo yang bernama Walango berangkat ke Teluk Tomini Barat, daerah Palasa untuk membuka tanah-tanah perkebunan. Sementara raja pengganti Walango yaitu polamolo, melakukan pula perjalanan ke daerah itu dengan maksud yang sama, dan dia sempat kawin di Palasa. Dalam kaitan tersebut S.R. Nur19 mengungkapkan bahwa raja Amai, raja utara yang ke II kerajaan Gorontalo pada tahun 1525, melakukan perjalanan dinasnya ke daerah-daerah jajahan Gorontalo tersebut, yakni di Teluk Tomini Barat dan kawin disana, tepatnya di daerah Palasa. Dalam perjalanan dinasnya di Palasa tersebut, Sultan Amai bertemu dengan puteri raja Palasa (bergelar Ogomonjolo; bermakna “yang punya sifat air dingin”) yang bernama Owutango, yang sudah menerima Islam dari Kesultanan Ternate.
Islam menjadi agama resmi kerajaan pada zaman pemerintahan Raja Matolodulakiki, yang mengedepankan prinsip “adat bersendi syara’, syara bersendi kitabullah”. Prinsip penyebaran Islam pada masa ini melahirkan suatu perkembangan baru yakni “adat yang di Islam-kan atau Islam yang diadat-kan”. Prinsip di atas lantas disempurnakan oleh Eyato, raja Gorontalo, sejak tahun 1673 menjadi ” Adati hula-hulaa to saraa, saraa hula-hulaa to Qur’ani” (ASQ). Landasan ini membawa implikasi tak ada lagi pertentangan antara apa yang diajarkan oleh adat dan Islam. Wujud dari landasan tersebut tergambarkandalam
Jaringan Islamisasi Gorontalo (Fenomena Keagamaan dan Perkembangan Islam di Gorontalo)
sistem sosial dan pemerintahan yang dibangun oleh Raja Eyato. Konsep kekuasaan Eyato ada dua, yaitu kekuasaan lahir yang dipraktikkan sehari-hari dan kekuasaan batin yang ada di dalam masyarakat. Namun, yang utama dari dua kekuasaan tersebut adalah kekuasaan batin. Ini berarti penguasa harus memusatkan kerjanya kepada kepentingan masyarakat.
Keyakinan terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang bersumber dari ajaran agama sangat lekat dengan kehidupan religius masyarakat Gorontalo yang menjunjung tinggi falsafah “adat bersendi syara’ dan syara’ bersendi kitabullah”. Seiring dengan penyebaran agama tersebut, Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara), Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).
Sejarah penyebaran agama Islam di Gorontalo juga ditandai dengan berdirinya Masjid Baiturrahim sejak abad ke-18. Masjid ini didirikan bersamaan dengan pembangunan Kota Gorontalo yang baru dipindahkan dari Dungingi ke Kota Gorontalo saat ini pada tahun 1726 oleh Paduka Raja Botutihe. Sebagai bagian dari Pusat Pemerintahan Kerajaan, fasilitas lain yang turut dibangun yaitu Yiladiya (Rumah Raja), Bantayo Pobuboide (Balairung/Balai Musyawarah), Loji (Rumah kediaman Apitaluwu (Pejabat Keamanan Kerajaan), dan Bele Biya/Bele Tolotuhu, yakni rumah-rumah pejabat kerajaan.
Perkembangan Islam Gorontalo diabad 20 (abad ke tiga islamisasi Gorontalo) tidak lepas dari peran Organisasi kemasyarakatan Islam (ormas) yang meliputi Muhammadiyah, al-Huda, al-Khairat, dan Nahdatul Ulama. Keempat ormas Islam tersebut, secara historis memiliki perannya masing-masing yang cukup kuat dalam konteks mengembangkan Islam di tanah Hulondhalo.
Muhammadiyah Pada tahun 1921 setelah penguasa Hindia Belanda menerbitkan surat Gouvernement Besluit nomor 36 tanggal 2 September 1921, yang berisi tentang persetujuan pemerintah Hindia Belanda atas 3 (tiga) perubahan artikel statute Muhammadiyah, yang antara lain memuat tentang bolehnya Muhammadiyah
Al Huda dan Al Khairat (1929 Dan 1930) Perguruan Islam Al-Huda didirikan pada zaman Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1957 M. Sebagai lanjutan dari perguruan Islam AlFataa al-‘Arabiyah di Kotamadya Gorontalo yang didirikan pada tahun 1929 M.22 Oleh karena kedua Taman Pendidikan Islam tersebut laksana untaian mata rantai yang tak terpisahkan.
Islam masuk lewat jalur perkawaninan.
Gorontalo adalah provinsi baru yang letaknya di Sulawesi bagian utara. Daerah ini punya jejak zaman kepemimpinan di masa dulu, termasuk kepemimpinan dalam kerajaan Islam.
Sebelum berdiri kerajaan Islam, di Gorontalo ada banyak kerajaan-kerajaan kecil. Hingga pada 1385, sejumlah 17 kerajaan kecil tersebut sepakat membentuk sebuah serikat kerajaan. Diangkatlah Maharaja Ilahudu untuk memimpin serikat kerajaan yang disebut dengan Kerajaan Hulondalo. Menyebut Hulondalo, berarti sama artinya dengan Gorontalo. Hulondalo berasal dari kata Hulonthalangi dari istilah Huta Langi-langi, yang dalam bahasa setempat artinya genangan air. Orang Belanda menyebutnya dengan Holontalo, yang apabila ditulis dalam abjad latin menjadi Gorontalo.
Nilai budaya yang dianut adalah yang berbasiskan pandangan harmoni dengan mengambil pelajaran yang ditunjukkan oleh alam. Ini berarti penduduknya menganut kepercayaan animisme. Kemudian, Islam mulai masuk ke Gorontalo.
Peneliti sejarah sosial dari Universitas Negeri Gorontalo, Basri Amin, menjelaskan mengenai masa-masa ketika Islam masuk ke Gorontalo. "'Sekitar 1525, Islam mulai masuk dalam wilayah kerajaan ini. Islam dibawa oleh sang raja saat itu, Raja Amai," ujarnya kepada Republika, pekan lalu.
Islam kala itu masuk melalui jalur perkawinan. Raja Amai menikahi putri dari kerajaan Palasa, bernama Owutango. Kerajaan Palasa ini berada di Teluk Tomini dan rajanya sudah Islam. Sang putri sendiri punya hubungan keluarga dengan pihak kerajaan di Ternate, yang telah lebih dahulu mengenal Islam.
Dari sini bisa terlihat, pihak kerajaan memahami Islam dan ingin menjalankan kerajaan sesuai tuntunan Islam. "Karena Islam, maka bentuk kerajaannya pun menjadi kesultanan," ujarnya.
Pendapat berbeda diungkapkan oleh guru besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarief Hidayatullah, Jakarta, Prof Dien Majid. Menurutnya, bentuk kerajaan tetap bisa dipertahankan meski rajanya telah Islam.
Dalam bentuk pemerintahan dulu, ia menjelaskan, dikenal bentuk kerajaan yang bersifat tradisional. Mulai abad ke-13, ketika Islam mulai masuk nusantara, maka dikenallah sistem pemerintah yang sesuai dengan ajaran Islam, yaitu kesultanan.
"Meski demikian, masih ada yang tetap menggunakan nama kerajaan, namun jabatan pemimpinnya disebut dengan sultan," ujarnya. Salah satunya, ia mencontohkan adalah kerajaan di Aceh, namanya tetap kerajaan, namun pemimpinnya bergelar sultan. Hal yang sama terjadi juga di Gorontalo.
Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo, Mohammad Karmin Baruadi, juga menjelaskan sejarah kerajaan Gorontalo dalam tulisannya yang berjudul Sendi Adat Dan Eksistensi Sastra: Pengaruh Islam Dalam Nuansa Budaya Lokal Gorontalo.
"Tokoh yang sangat berperan dengan pemikirannya yang religius Islami adalah istri Amai sendiri yang bernama putri raja Palasa," tulisnya. Awalnya, saat Raja Amai ingin meminangnya, sang putri yang berasal dari kerajaan Islam di Sulawesi Tengah inipun mengajukan beberapa persyaratan.
Pertama, Sultan Amai dan rakyat Gorontalo harus diislamkan, dan yang kedua adat kebiasaan dalam masyarakat Gorontalo harus bersumber dari Alquran. "Dua syarat itu diterima oleh Amai. Di sinilah awal Islam menjadi kepercayaan penduduk Gorontalo," tulisnya.
Sebelum menikah Raja Amai mengumpulkan seluruh rakyatnya. Raja Amai dengan terang-terangan mengumumkan diri telah memeluk agama Islam secara sah dan kemudian meminta seluruh pengikutnya untuk melakukan pesta meriah.
Pada pesta tersebut Raja Amai meminta kepada rakyatnya untuk menyembelih babi disertai dengan pelaksanaan sumpah adat. Saat pendeklarasian sumpah tersebut, adalah hari terakhir rakyat Gorontalo memakan babi.
Usai proses sumpah adat, Raja Amai kemudian meminta rakyatnya untuk masuk Islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Ia sendiri kemudian mengganti gelarnya dengan gelar raja Islam, yaitu sultan. Prinsip hidup baru ini, mudah diterima oleh masyarakat Gorontalo saat itu, yang tidak tersentuh oleh Hindu-Buddha. Masyarakat merasakan tidak ada pertentangan antara adat dan Islam, namun justru memperkuat dan membimbing pelaksanaannya.
Komentar
Posting Komentar